Foto: Chatgpt
Asap itu naik pelan seperti doa yang tidak tahu harus berhenti di
mana. Ia keluar dari dapur kecil di rumah yang dibangun papa dari bambu yang
berdiri sendiri di tengah sawah Nagari Lasi, di kaki Gunung Marapi. Dari jauh,
rumah itu tidak terlihat istimewa. Sederhana saja, lebih sering disebut pondok
oleh orang kampung. Tapi bagi aku, rumah itu adalah tempat di mana rasa paling
jujur pernah lahir. Di dapur itu papa sedang memasak kacimuih. Aku masih ingat
betul pagi-pagi di Nagari Lasi.
Kabut masih rendah, ayam belum ramai, dan sawah
masih diam seperti belum sepenuhnya bangun. Papa sudah di dapur, mengangkat
singkong yang direbus sejak subuh. Kulitnya sudah hilang, kerasnya sudah tidak
ada, yang tersisa hanya putihnya yang lembut, seperti sesuatu yang sudah selesai
melalui hidup yang panjang.
Dengan tangan yang setiap hari akrab dengan tanah,
papa menumbuk singkong itu pelan-pelan. Tidak ada suara yang keras. Hanya bunyi
alu kayu yang jatuh ritmis, seperti detak waktu di rumah itu berjalan lebih
lambat dari dunia luar. Di sudut dapur, kelapa sudah diparut. Putihnya jatuh
seperti salju, basah dan wangi. Gula pasir dan gula aren sudah disiapkan. Tidak
ada takaran pasti. Papa tidak pernah memakai ukuran. Katanya, rasa itu tidak
lahir dari angka, tapi dari kebiasaan yang diulang-ulang. Di situ kacimuih mulai
jadi. Kacimuih itu sederhana. Singkong yang sudah lembut, dicampur dengan kelapa
parut, lalu diberi gula di atasnya. Tapi ketika aku makan itu, rasanya tidak
pernah sekadar singkong. Ada rasa hangat yang tidak bisa dijelaskan. Lembutnya
bukan hanya di mulut, tapi juga di dada. Aku selalu ingat cara papa
menyajikannya. Tidak pernah mewah. Kadang hanya di piring kecil, kadang di daun,
kadang langsung di meja kayu dapur.
Tapi anehnya, justru di kesederhanaan itu
aku merasa paling kenyang. Di luar dapur, air sawah bergerak pelan ditiup angin.
Gunung Marapi berdiri jauh, diam seperti orang tua yang tidak banyak bicara,
tapi selalu ada. Aku dulu tidak pernah berpikir bahwa momen seperti itu akan
menjadi sesuatu yang aku rindukan seumur hidup. Karena sekarang aku sudah jauh
dari Nagari Lasi.
Namun di Nagari Lasi, singkong tidak hanya menjadi kacimuih.
Ada hari-hari lain ketika papa membuat Tumbang Ubi. Jika kacimuih terasa seperti
pagi yang tenang, maka tumbang ubi seperti sore yang sedikit berat. Aku masih
ingat cara papa mengolahnya.
Singkong yang sama, dari tanah yang sama, dari
kebun yang sama di pinggir sawah. Tapi hasilnya berbeda.Kali ini papa tidak
hanya menumbuk dan mencampur kelapa. Ia memasukkan gula merah yang sudah
dicairkan ke dalam adonan singkong. Perlahan, warnanya berubah. Dari putih
menjadi cokelat tua. Dari lembut menjadi lebih padat. Tumbang ubi tidak selembut
kacimuih. Rasanya lebih dalam. Lebih kuat. Manisnya tidak langsung hilang. Ia
tinggal lebih lama di lidah, seperti ingatan yang tidak mudah pergi.Papa
mencetaknya tanpa bentuk yang terlalu rapi. Tidak pernah dipaksa harus sama.
Baginya, makanan tidak perlu sempurna, yang penting jujur. Dan benar saja,
tumbang ubi itu selalu terasa jujur.
Aku tumbuh dengan dua rasa itu: kacimuih
dan tumbang ubi. Dua makanan sederhana dari singkong yang sama, tapi punya
cerita yang berbeda di lidahku.Kacimuih selalu mengingatkanku pada pagi yang
ringan, pada tawa kecil di dapur, pada tangan papa yang sabar mengaduk dan
menata rasa. Sementara tumbang ubi selalu mengingatkanku pada sore yang lebih
tenang, pada percakapan yang tidak banyak, pada rasa yang lebih dalam dan tidak
terburu-buru.
Aku tidak pernah benar-benar menyadari, waktu itu, bahwa semua itu
adalah cara papa menunjukkan cinta. Tidak dengan kata-kata. Tidak dengan
penjelasan panjang. Tapi dengan singkong yang ditanamnya sendiri, dipanennya
sendiri, lalu diolahnya sendiri untuk kami makan. Sekarang aku sudah jauh dari
Nagari Lasi. Jarak membuat banyak hal berubah. Sawah tidak lagi terlihat setiap
hari. Kabut pagi tidak lagi menjadi bagian dari rutinitas. Dan dapur kecil di
rumah bambu itu hanya hadir dalam ingatan. Tapi ada satu hal yang tidak pernah
berubah. Rasa itu.
Setiap kali aku ingat kacimuih, aku seperti kembali duduk di
dapur itu, melihat papa menumbuk singkong. Setiap kali aku ingat tumbang ubi,
aku seperti kembali merasakan manis yang lebih dalam, yang tidak bisa digantikan
oleh makanan apa pun di tempat lain. Di tempat aku sekarang, makanan mungkin
lebih banyak. Lebih modern. Lebih rapi. Tapi tidak ada yang benar-benar bisa
menggantikan rasa dari tangan papa. Aku sering rindu. Bukan hanya pada
makanannya, tapi pada suasananya. Pada suara alu kayu di dapur. Pada asap yang
naik dari dapur kecil di tengah sawah. Pada cara papa bekerja tanpa banyak
bicara. Dan aku sadar, jarak tidak pernah benar-benar memutuskan itu.
Karena
cinta papa tidak pernah pergi bersama jarak. Ia hanya berubah bentuk. Menjadi
kacimuih yang lembut di ingatan. Menjadi tumbang ubi yang tinggal lebih lama di
hati. Di Nagari Lasi, di kaki Gunung Marapi, aku pernah belajar satu hal
sederhana: bahwa cinta seorang papa tidak selalu hadir dalam kata, tapi dalam
rasa yang terus hidup bahkan ketika kita sudah jauh sekali darinya.

Komentar
Posting Komentar